Tuesday, July 16, 2013

Kerajinan Tenun Cagcag Jembrana

Jembrana sejak dulu terkenal sebagai daerah penghasil kain tenun yang secara khusus dikerjakan oleh perempuan dalam lingkungan rumah tangga.

Kegiatan menenun bagi perempuan di Bumi Makepung ini pada mulanya hanya bersifat penerusan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat itu. Setiap perempuan yang lahir di daerah Jembrana mengalami suatu proses belajar dalam lingkungan keluarganya yang terdiri atas bermacam aspek kehidupan dan salah satunya membuat kain dengan cara menenun cagcag.
Tenun Cagcag Jembrana
Tenun Cagcag
Menenun cagcag selama ini dianggap sebagai bagian dari kehidupan perempuan di Jembrana. Bahkan dari informasi pada jaman dahulu perempuan akan dianggap tidak pantas lahir sebagai perempuan jika belum bisa menenun. Oleh karena itu, sejak kanak-kanak perempuan di Jembrana diajari dan dilatih menenun oleh ibunya. Merupakan suatu keharusan bagi setiap gadis di daerah itu untuk menenun sebelum mereka menemukan jodohnya.

Kegiatan itu, di samping untuk mengisi waktu lowong, juga sekaligus membuat hasil tenun yang dapat dipergunakan untuk membantu ekonomi keluarga, terutama pada saat musim paceklik. Tradisi itu demikian kuatnya sehingga bertahan dari generasi ke generasi. Tradisi itu juga mengandung nilai-nilai sosial budaya sehingga menjadikannya tetap eksis.

Perkembangan pariwisata di Bali senantiasa menjadi salah satu pendorong dan sekaligus peluang bagi kaum perempuan untuk meningkatkan peranannya pada sektor industri, khususnya industri kerajinan tenun cagcag. Berkembangnya kerajinan kain tenun secara tidak langsung membebaskan perempuan dari belenggu nilai dan norma yang ada dalam masyarakat di Jembrana.

Tenun yang merupakan hasil kerajinan ini memiliki keindahan sehingga banyak diminati oleh masyarakat dan masih mampu bertahan sampai sekarang. Walaupun pabrik-pabrik tekstil bermunculan dengan pesat dan berkualitas tinggi, namun kenyataannya masyarakat Bali, pada umumnya, masih menyukai dan menghargai kain tenun kerajinan rakyat yang dibuat dengan alat tenun sederhana yang disebut cagcag. Adanya peluang kerja di bidang industri kerajinan kain tenun cagcag ini, menyebabkan semakin banyaknya kaum ibu dan bahkan kaum pria mulai tertarik dan berkeinginan untuk belajar menenun.

Kerajinan tenun cagcag ini kini lebih banyak berkembang di Kelurahan Sangkaragung,Jembrana. Kelurahan yang ada di kecamatan Jembrana itu sebelumnya berhasil menyabet predikat pertama dalam lomba Usaha Peningkatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) tingkat Kabupaten Jembrana. Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Menuh di Lingkungan Pangkung Gondang, Kelurahan Sangkargung, Kecamatan Jembrana, bisa dikatakan menjadi salah satu kelompok penenun cacag khas Kabupaten Jembrana yang sedang gencar untuk mempromosikan produknya.
Tenun Cagcag Jembrana
Menenun Cagcag
Ni Komang Ani Astuti (33) pencetus yang juga menjadi Ketua UPPKS Menuh, mengatakan kalau kelompoknya sering diikutkan sejumlah pameran industri keluar Jembrana, bahkan keluar Bali.Menurutnya gencarnya kesempatan untuk mengikuti pameran yang juga menjadi ajang promosi tersebut tidak lepas dari jalinan sejumlah kerjasama dari sejumlah instansi. Seperti dari BKKBN Provinsi Bali, Pemberdayaan Perempuan dan KB Pemkab Jembrana, Perindagkop Jembrana, PNPM, ASKES, termasuk BRI.

Dikatakannya sejak dibentuk kelompok 1 Oktober 2003, diakui pemasaran awal sempat mentok pada lokalan Bumi Makepung saja. Kemudian ada juga pesanan dari instansi Pemkab Jembrana.Awalnya memang tidak terlalu ramai. Kerjasama yang datang itu baru dimulai tahun 2008, dan yang paling utama sekali BKKBN Bali. Dari sana dibentuk jadi UPPKS, ikuti Bimtek (bimbingan teknis), dan setiap Harkenas (Hari Keluarga Nasional) rutin dipamerkan di Denpasar. “Kesempatan itu saya ambil untuk menjalin kesempatan juga sama toko-toko yang sekarang sudah rutin minta barang pada kita,” jelas perempuan kelahiran Desa Yehkuning, Kecamatan Jembrana ini.

Astuti mengatakan tidak hanya sampai di Denpasar tenun cagcag Bumi Makepung hasil kelompoknya diakui sempat dilirik sejumlah instansi di luar Bali. Seperti dari pameran yang pernah diikuti di wilayah Jatim dan Jabar, sempat beberapa instansi yang ada di luar daerah itu memesan hasil kerajinannya. Selama terbentuk sebagai UPPKS sejak tahun 2008, ada beberapa prestasi yang telah dikantongi. Antaranya adalah Juara I lomba UPPKS tingkat Kabupate Jembrana tahun 2011. Kemudian Juara III lomba UPPKS tingkat Provinsi Bali tahun 2013.

Sementara dari permintaan pasar yang dirasa semakin berkembang, diakui ada sejumlah motif yang menjadi trend. Diantaranya adalah kain bermotif pucuk rejuna dan motif bulan bintang. Kedua motif dinyatakan banyak dilirik sejumlah kalangan, khususnya di Bali.Terkait motif yang dibuat selalu diusahakannya dengan membuat sejumlah modifikasi. Sebab dengan cara tersebut, diyakini bisa semakin menarik minat para pengguna. Disamping melihat trend perkembangan permintaan.

Sejak dibentuk memang diakui tidak pernah ada kendala yang sangat berarti. Pemasaran diakui tetap lancar, meskipun awalnya hanya lokalan Jembrana. Astuti mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk kain tenun cagcag tergolong relatif. Semua tergantung dari motif design yang dikehendaki. Namun menenun memerlukan ketelitian, proses yang terbilang cukup ribet adalah saat mempersiapkan benang.

Dalam proses persiapan benang dilalui tiga tahapan kunci. Masing-masing adalah ngeliying, ngayinin, dan nyahsah. Ngeliying sendiri merupakan proses penggulungan benang yang akan digunakan modifikasi, dengan menggunakan alat bernama jantre. Kemudian ngayinin adalah proses membentangkan benang dasar dengan alat yang diberi nama pengayinan. Kemudian nyahsah adalah proses membentangkan benang dasar pada bale penyahsahan. Ketika nyahsah, benang dihitung terlebih dahulu secara teliti.Ketika proses tersebut biasa diambil dalam waktu empat setengah hari.

Ketika tahapan penyiapan benang sudah diselsaikan, proses dilanjutkan dengan mamasukan benang dasar alat tenun. Benang dasar yang telah dihitung dimasukan dalam alat yang disebut serat. Proses tersebut dikenal dengan nama nyuntik kaserat. Selama proses menenun rata-rata dihabiskan waktu selama sepuluh hari untuk jenis kain bermotif biasa. Kain bermotif biasa tersebut sering dijual dengan kisaran Rp 200 sampai 300 ribu. Sedangkan motif pucuk rejuna dan blan bintang yang sedang menjadi trend biasa dijual Rp 350 ribu.Kalau yang paling mahal menurutnya ada motif kupu-kupu, bisa sampai Rp 1 juta. “Kalau motif campuran bisa sampai 1,5 juta.

Astuti berharap dengan gencarnya Pemkab Jembrana melakukan promosi produk tenun cagcag ini semakin dicari sehingga para penenun di Jembrana semakin sejahtera.
Witari Ari
by : Witari Ari

Artikel Terkait